INFORMASI PUBLIK

Delegasi G20 MCWE Sepakati Perlunya Data Terpilah Gender Dan Kemitraan Multipihak Untuk Ekosistem Kewirausahaan Perempuan Yang Lebih Baik

Siaran Pers Nomor: B-433/SETMEN/HM.02.04/08/2022


Bali (25/08) – Memasuki hari kedua, Agenda G20 Ministerial Conference on Women’s Empowerment (MCWE) kali ini membahas mengenai Kewirausahaan Perempuan: Mempercepat Kesetaraan, Mempercepat Pemulihan. Dalam agenda ini, para delegasi menyepakati beberapa aksi yang perlu dilakukan, diantaranya memandatkan data terpilah gender, integrasi gender ke dalam berbagai kebijakan dan program, hingga kemitraan multipihak untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan perempuan yang lebih baik.

“UMKM mendorong peluang komersial, berkontribusi pada 90% bisnis, 50% lapangan kerja, dan 40% PDB. Namun, kesenjangan sistemik dan praktik diskriminatif terus menghambat partisipasi sosial dan ekonomi perempuan, serta inklusi keuangan,” ujar Harsha Rodrigues, Executive Vice President of Women’s World Banking.

Harsha mengungkapkan beberapa kesenjangan gender yang dihadapi perempuan, diantaranya kesenjangan kepemilikan smartphone, dimana kepemilikan smartphone perempuan lebih sedikit dari laki – laki, kesenjangan keterampilan digital, dan kesenjangan kepemilikan identitas. Kemudian, dari aspek mobilitas, masih terdapat adanya pembatasan kebebasan bergerak bagi perempuan, sedangkan dari aspek kewirausahaan masih terdapat 104 negara yang tidak menerapkan pelarangan diskriminasi terhadap akses perempuan ke kredit. Selain itu, sebanyak 40% negara membatasi hak milik perempuan, dan masih terdapat 86 negara yang membatasi peluang ekonomi perempuan, dimana hanya 95 negara yang menetapkan upah yang setara bagi laki – laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama.

“Penting untuk melakukan pengumpulan data terpilah gender dengan melakukan pelaporan data terpilah gender, menjadikan data ini terakses oleh publik, dan menggunakannya untuk meningkatkan kebijakan dan program inklusi keuangan dan mempromosikan produk yang memenuhi kebutuhan perempuan,” ujar Harsha. 

Ia juga menambahkan perlunya desain yang berpusat pada perempuan untuk memastikan pengembangan produk dan layanan benar-benar sesuai dengan kebutuhan perempuan, pemanfaataan pinjaman tanpa agunan untuk meningkatkan visibilitas pengusaha perempuan, peningkatan akses kredit bagi pengusaha, peningkatan kemampuan keuangan digital di semua produk dan layanan, dan peningkatan kemampuan bisnis dalam produk kredit.

Sementara itu, Head of We-Fi Secretariat World Bank, Wendy Teleki memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang mengangkat tema perempuan sebagai pelaku usaha dalam Presidensi G20 Indonesia. Wendy menegaskan bahwa perempuan pelaku usaha semakin mengambil peranan penting dalam ekonomi global. Sayangnya, di seluruh dunia adanya kesenjangan gender dalam usaha memang benar-benar terjadi. 

“Kewirausahaan adalah salah satu upaya penting bagi kelompok perempuan untuk mencapai kemakmuran dan mendapatan akses finansial secara mandiri. Dari data yang dimiliki We-Fi, 25 persen perempuan lebih sedikit memulai bisnis dibandingkan laki-laki sementara minat memiliki usaha sendiri sebanding antara laki-laki dan perempuan. Itu sebabnya, kami juga menerapkan beberapa upaya seperti data terpilah gender untuk memastikan bantuan keterampilan dan pembiayaan bisa tepat sasaran dan bisa membantu para regulator mengeluarkan kebijakan yang tepat,” ujar Wendy.

We-Fi yang diluncurkan pada tahun 2017 dalam Presidensi G20 Jerman, dalam operasionalnya mendapatkan bantuan dari 14 donor besar dan dianggarkan untuk 60 negara berkembang dimana terdapat kelompok rentan perempuan. Upaya-upaya yang dilakukan We-Fi diantaranya adalah untuk memberdayakan kelompok perempuan di saat pandemi, pelatihan bagi perempuan pelaku usaha khususnya usaha kecil dan menengah, melakukan pendekatan bisnis yang berkelanjutan secara ekosistem, memberikan bantuan atas akses penjualan produk ke pasar dan memperbaharui mindset perempuan pelaku usaha. Menurut mereka, pandemi adalah peluang bagus untuk memasuki pasar dunia. Di Vietnam, mereka melatih petani-petani yang terdampak pandemi untuk bercocok tanam tanaman rempah, sementara di Nigeria mereka mengenalkan produk-produk baru digital kepada ribuan perempuan yang tidak memiliki akses ke bank, dan di Pakistan mereka melakukan pelatihan kepada 180 tutor unpaid care.

Elizabeth Vazquez, CEO of WeConnect International mengutarakan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kewirausahaan perempuan, diantaranya (1) menanyakan kepada pemilik bisnis perempuan, mengenai hal yang paling mereka butuhkan untuk menjadi sukses, (2) mengikuti anggaran yang ada dan manfaatkan daya beli pemerintah, (3) melibatkan lembaga pengadaan publik dengan segera untuk mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan, (4) belajar dari sektor swasta, dan membangun kemitraan publik dengan swasta untuk mendukung program inklusif gender, (5) memanfaatkan organisasi masyarakat sipil di domestik maupun global untuk mendukung ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan inklusif.

“Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia di G20, kita mendorong institusi keuangan di seluruh dunia untuk memberi lebih banyak data terpilah dan mendorong akses keuangan untuk perempuan pebisnis. Kita mencoba untuk menempatkan perempuan dan anak perempuan sebagai bagian penting dari kebijakan kita,” ujar H.E. Baroness Stedman-Scott, Minister for Women and Equalities, United Kingdom.

Selain itu, ia mengungkapkan pentingnya pendidikan pemberdayaan perempuan, pengakhiran kekerasan terhadap perempuan, serta manajemen akses digital. Penggunaan teknologi digital sangat penting untuk membangun bisnis baru di dunia sekarang ini. Ia juga mengungkapkan bahwa bekerja di lintas sektor pemerintah, masyarakat sipil, dan juga sektor swasta bisa mendorong pemberdayaan perempuan di banyak area.

Sementara itu, dalam diskusi ini terdapat beberapa rekomendasi aksi yang akan dilakukan diantaranya memandatkan adanya data terpilah gender, termasuk mendata kebutuhan para pengusaha perempuan, menerapkan cara – cara pinjaman yang sesuai, dan meningkatkan kemampuan – kemampuan perempuan. Kemudian, mengatasi semua permasalahan kewirausahaan perempuan di seluruh spektrum pada sektor publik dan swasta untuk menghasilkan perubahan. Terkait pengadaan, perlu memanfaatkan kekuatan pemerintah dengan melibatkan lembaga pengadaan publik untuk mendukung pemberdayaan perempuan.

“Lalu yang menjadi pesan inti dalam diskusi ini, adalah pentingnya kemitraan multipihak, artinya, semua aktor dalam ruangan ini, termasuk juga pihak swasta. Selain itu, juga penting mengembangkan kemitraan – kemitraan, mendayagunakan organisasi – organisasi sipil dan internasional untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan perempuan yang lebih baik,” ujar Samantha Hung, Chief of Gender Equality Thematic Group, Asian Development Bank selaku moderator.


BIRO HUKUM DAN HUMAS
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id