Menteri PPPA Dorong Sinergi Lintas Agama untuk Atasi Darurat Kekerasan Perempuan dan Anak
Siaran
Pers Nomor: B-253 /SETMEN/HM.02.04/8/2025
Semarang (5/8) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak (PPPA), Arifah Fauzi menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas
agama dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini
disampaikan Menteri PPPA saat diskusi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB) dan pegiat lintas iman lainnya di Kota Semarang, pada Minggu (3/8).
“Kolaborasi lintas sektor sejalan dengan amanat Presiden Prabowo,
yang menyatakan bahwa tidak ada satu kementerian yang bisa berjalan sendiri.
Semua harus saling bersinergi dan berkolaborasi. Selain itu, mendiang Presiden
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga selalu mengajak teman-teman lintas agama untuk
bekerja sama menyelesaikan persoalan bangsa. Saya yakin ketika semua pihak
bergandengan tangan, bersinergi, dan berkolaborasi, persoalan perempuan dan
anak yang ada dapat diselesaikan bersama-sama,” ujar Menteri PPPA.
Berdasarkan hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN)
2024 dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024,
Menteri PPPA menyampaikan satu dari empat perempuan dan satu dari dua anak di
Indonesia pernah mengalami kekerasan. Selain itu, sepanjang Januari hingga
pertengahan Juni 2025, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak
(SIMFONI PPA) mencatat sebanyak 11.850 kasus kekerasan.
“Untuk mengatasi hal tersebut, Kemen-PPPA melanjutkan program
sebelumnya yang diinisiasi oleh menteri terdahulu, yaitu Desa/Kelurahan Ramah
Anak dan Perempuan (DRPPA). Namun, program ini kini diubah namanya menjadi
Ruang Bersama Indonesia (RBI). Perubahan ini membawa satu tambahan indikator
penting, yaitu adanya kolaborasi, sinergi, dan partisipasi aktif dari berbagai
pihak serta masyarakat. Program ini bertujuan untuk menciptakan desa ideal yang
bebas stunting, memastikan anak-anak bersekolah, dan memberdayakan perempuan,”
kata Menteri PPPA.
Sejalan dengan kolaborasi tersebut, Menteri PPPA mengajak FKUB untuk
mengambil peran lebih besar dalam menguatkan ketahanan keluarga melalui
nilai-nilai agama. Pendekatan berbasis nilai keagamaan dan budaya lokal
dinilainya sangat strategis untuk menjawab tantangan zaman.
“Kami mengajak seluruh FKUB dan komunitas lintas iman lainnya untuk
memperkuat kembali pondasi agama di setiap umat beragama, melalui strategi yang
tepat sehingga toleransi dan kebersamaan dapat diwujudkan. Saya juga berharap
Semarang dapat menjadi pilot project dalam menguatkan perempuan dan anak
melalui kolaborasi strategis dengan FKUB, dan model ini bisa direplikasi di
daerah lain,” pungkas Menteri PPPA.
Wakil Wali Kota Semarang, Ir. H. Iswar Aminuddin mewakili pemerintah
kota Semarang yang memfasilitasi pertemuan menyampaikan Pemerintah Kota
Semarang mengapresiasi inisiatif komunitas lintas iman dalam menciptakan ruang
belajar toleransi untuk anak-anak. Salah satunya adalah program Semarang Anak
Damai yang mengajak anak usia 10–13 tahun mengunjungi rumah ibadah dari berbagai
agama guna memahami perbedaan secara langsung dan membangun sikap saling
menghargai.
“Upaya menjadikan rumah ibadah sebagai ruang publik ramah anak juga
terus digencarkan. Sejumlah masjid, gereja, dan pura di Semarang mulai
bertransformasi menjadi ruang terbuka yang aman bagi anak dan perempuan, dengan
kolaborasi bersama aktivis serta organisasi keagamaan,” ujar Iswar Aminuddin.
Selain itu, Ketua FKUB Kota Semarang, Kyai Mustamaji juga menegaskan
pentingnya kolaborasi semua elemen masyarakat dalam memperkuat ketahanan sosial
berbasis nilai agama dan budaya lokal. Ia mengajak semua pihak untuk menjadikan
toleransi dan kerukunan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Ia juga
mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan Kemen
PPPA, dalam mendorong kolaborasi antarumat beragama untuk menjaga keutuhan
bangsa.
“Baru-baru ini kota Semarang mendapat peringkat ketiga dalam Indeks
Kota Toleran. Harus diakui itu bukan saja peranan FKUB, tetapi juga ada
inisiasi seperti Persaudaraan Lintas Iman (PELITA) sebagai gerakan akar rumput
yang aktif menjaga harmoni antarumat beragama. PELITA tumbuh dari inisiatif
masyarakat sipil dan memiliki daya jangkau yang lebih luas. Kolaborasi memang
sudah membuktikan menjadi kunci keberhasilan Semarang dalam mempertahankan
predikat sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia” ujar Kyai
Mustamaji.
Forum diskusi ini dihadiri oleh para tokoh dari Islam, Kristen
Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu dan perwakilan penghayat
kepercayaan. Diskusi ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta, diantaranya 12
pengurus FKUB Kota Semarang, aktivis PELITA, serta pegiat isu perempuan dan
anak. Melalui forum ini, para pemuka lintas iman bersama pemerintah membangun
ruang dialog yang terbuka dan konstruktif demi menjaga kerukunan, memperkuat
toleransi, serta menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai dan inklusif.